Palu, MediaSulteng.com – Kekhawatiran warga terkait kualitas Paket kegiatan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan Dalam Kota Palu – Donggala (Ampera) yang di laksanakan PT. Nindya Karya dan PT. Passokorang (KSO) senilai Rp.150 Milyar mulai terbukti, memasuki 60 hari usai dinyatakan selesai dikerjakan tampak permasalahan mulai mencuat.
Pasalnya, Memasuki musim penghujan di bulan Juli 2021, Drainase dan Jalan serta Trotoar yang dikerjakan oleh Perusahaan Plat Merah tersebut mulai mengalami kerusakan,bahkan Drainase yang diharapkan bisa menjadi solusi mengurai air hujan dan luapan buangan dalam selokan disepanjang jalan Diponegoro dan Imam Bonjol Kota Palu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Seperti yang terjadi pada Senin malam (29/06/2021) sekira Pukul 22.00, hujan lebat yang mengguyur kota Palu dan sekitarnya membuat sejumlah ruas jalan diwarnai luapan air, di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro banjir parah menghiasi jalan Protokol di Kota Palu ini.
Debit air yang meningkat dan dugaan tidak berfungsinya saluran Drainase yang baru selesai dikerjakan dalam bentuk Kerjasama Operasional (KSO) antara pemenang tender PT Nindya Karya dan PT Pasokorang , luapan air bercampur sampah rumahtangga tampak “Menghiasi “ Jalan Utama dalam Kota Palu tersebut.
Tidak berfungsinya Drainase disepanjang Jalan Diponegoro dan Imam Bonjol tersebut diduga kuat akibat kualitas pekerjaan konstruksi U-Ditch yang “abal-abal”, sejak awal dikerjakan Proyek yang dibiayai dari Pos Anggaran Pinjaman Bank Dunia telah disorot warga.
Proyek yang masuk dalam Proyek Nasional Rehab Rekon Jalan Nasional dan Non Nasional yang bersamaan dengan Pekerjaan Pembangunan Tanggul Pengaman Pantai Kota Palu di Kampung Lere dikerjakan dengan Metode Penganggaran Multi Year atau Tahun Jamak selama 450 hari kerja .
Proyek yang dikerjakan sejak tanggal 2 Oktober Tahun 2019 hingga 19 Januari 2021 dan diperpanjang hingga tanggal 30 April 2021 untuk menyelesaikan ternyata tidak maksimal,saat ini kondisi Proyek Ratusan Milyar tersebut bahkan telah mengalami beberapa kerusakan .
Item pekerjaan proyek yang paling banyak disorot warga adalah kualitas Drainase,Trotoar dan Mutu Aspal dijalan Nasional tersebut, khusus Drainasenya terbukti tidak mampu menampung debit air dikarenakan sendimentasi lumpur dan penumpukan sampah sejak dikerjakan tidak dibersihkan secara maksimal.
Kondisi terparah terjadi pada ruas jalan Diponegoro tepatnya di Depan Kampus Universitas Alkairaat (UNISA) hingga diperempatan jalan (Trafic Light) Jalan Gawalise-Diponegoro-Jalan Malonda.
Ketua Perhimpunan Studi Sosial Advokasi dan Hak Azasi Manusia (Pusdisos-HAM),Supardi S.Sos secara tegas menyoroti masalah ini, tidak berfungsinya Drainase sebagai pengurai air dibadan jalan dikala hujan dan tidak dapat menampung air selokan saat musim hujan adalah indikasi bobroknya kualitas pekerjaan.
Menurut Supardi, Pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah Khususnya Gubernur terpilih,Rusdi Mastura untuk dapat melakukan evaluasi dan monitoring terhadap kinerja Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) wilayah II Sulawesi Tengah terkait hal ini.
Masih menurut Supardi,Hal ini penting dikarenakan Proyek ratusan Milyar tersebut membentang disepanjang ruas Jalan Palu Donggala yakni Ruas Surumana ,Batas Propinsi hingga ke Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala.
“ ada Uang Negara Rp .150 Milyar yang digelontorkan disitu,dikucurkan untuk Proyek Rehab dan Rekon jalan Nasional Pasca Bencana, dikerjakan Kontraktor Negara (PT Nindya Karya/BUMN) ,tetapi kualitasnya tidak sesuai harapan , sebagai wilayah penerima manfaat seharusnya Pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah Protes ke Pusat untuk mengevaluasi Satuan Kerja yang menjadi Penanggung Jawab pengawasan Proyek tersebut “ Ungkapnya.**















