Sigi, Media Sulteng – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB atau 11.27 WITA mengundang keprihatinan berbagai pihak. Di tengah duka yang dirasakan masyarakat terdampak, anggota DPRD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Yuliana Tumonglo SM, turun langsung ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga yang membutuhkan.
Politisi Partai Demokrat tersebut mendatangi sejumlah wilayah terdampak di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Bantuan yang dibawa berupa paket sembako berisi mi instan, beras, air mineral, serta bantuan uang tunai yang diberikan langsung kepada warga terdampak gempa.
Penyaluran bantuan difokuskan di dua desa, yakni Desa Motou dan Desa Makmur, Kecamatan Palolo. Kedua wilayah tersebut menjadi lokasi yang dikunjungi Yuliana untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Sejumlah akses jalan menuju rumah-rumah warga terdampak tidak dapat dilalui kendaraan karena tertutup material bangunan yang roboh akibat guncangan gempa. Kondisi tersebut memaksa Yuliana dan rombongan harus berjalan kaki menyusuri pematang sawah untuk menjangkau warga yang berada di lokasi terdalam.
Dengan membawa bantuan secara langsung, Yuliana tampak menyusuri jalur sempit di tengah area persawahan demi menemui masyarakat yang masih berjuang memulihkan kondisi pascabencana. Langkah tersebut dilakukan agar bantuan dapat diterima langsung oleh warga yang membutuhkan tanpa terkendala akses jalan yang rusak.
“Kami harus berjalan kaki melewati pematang sawah karena beberapa rumah warga tidak bisa dijangkau kendaraan. Ada bangunan yang roboh dan menutup akses jalan, sehingga satu-satunya cara adalah berjalan kaki,” ungkap Yuliana dalam keterangan persnya, Kamis (18/6/2026).
Bagi Yuliana, kunjungan kemanusiaan tersebut bukan sekadar menjalankan aksi sosial biasa. Perempuan yang kini menjadi wakil rakyat di Kabupaten Bantul itu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan wilayah Palolo. Ia merupakan putri daerah yang berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo, sehingga bencana yang menimpa masyarakat setempat menjadi duka yang juga ia rasakan secara pribadi.
Meski kini telah menetap di Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Bantul, Yuliana mengaku tidak pernah melupakan tanah kelahirannya. Baginya, Palolo dan Palu merupakan bagian dari perjalanan hidup yang telah membentuk dirinya hingga bisa meraih kesuksesan di perantauan.
“Sebagai orang Palu yang lahir dan besar di Palolo, saya merasa terpanggil untuk hadir dan membantu saudara-saudara saya yang sedang mengalami musibah. Walaupun sekarang saya tinggal di Bantul, ikatan batin dengan kampung halaman tidak pernah putus,” katanya.
Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat sedikit meringankan beban warga yang terdampak gempa serta membantu memenuhi kebutuhan pokok mereka selama masa pemulihan.
Selain memberikan bantuan material, kehadiran langsung di tengah masyarakat juga menjadi bentuk dukungan moral bagi para korban agar tetap kuat menghadapi cobaan. Menurut Yuliana, semangat gotong royong dan kepedulian sosial menjadi modal penting dalam membantu masyarakat bangkit setelah bencana.
Yuliana juga mengajak berbagai elemen masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, maupun para dermawan untuk ikut memberikan perhatian kepada para korban bencana. Menurutnya, musibah yang terjadi di Sulawesi Tengah merupakan duka bersama yang membutuhkan uluran tangan banyak pihak.
“Kepedulian terhadap sesama harus terus ditumbuhkan. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa menjadi inspirasi bagi pihak lain untuk ikut membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akibat bencana,” ujarnya.
Aksi kemanusiaan yang dilakukan Yuliana Tumonglo mendapat apresiasi dari warga setempat. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi yang masih sulit pascagempa, kehadiran langsung seorang wakil rakyat yang rela berjalan kaki melewati pematang sawah demi menyalurkan bantuan menjadi bukti nyata bahwa kepedulian tidak mengenal batas wilayah.
Bagi warga Desa Motou dan Desa Makmur, bantuan tersebut bukan hanya soal sembako dan santunan yang diterima, tetapi juga menjadi penyemangat bahwa mereka tidak menghadapi musibah ini sendirian. Di tengah puing-puing bangunan yang roboh dan upaya pemulihan yang masih berlangsung, solidaritas kemanusiaan terus hadir menguatkan harapan masyarakat untuk bangkit kembali.***
















