TOLITOLI — Pemusnahan barang bukti narkoba jenis sabu seberat 296,32 gram yang dilaksanakan Satresnarkoba Polres Tolitoli pada 26 Mei 2026 justru memantik sorotan tajam dari kalangan insan pers di Kabupaten Tolitoli.
Sejumlah wartawan mengaku tidak mendapat undangan dalam kegiatan yang seharusnya terbuka untuk publik tersebut.
Kondisi itu memicu tanda tanya besar di kalangan media.
Banyak pihak menilai Satresnarkoba Polres Tolitoli terkesan pilih kasih terhadap wartawan yang dilibatkan dalam peliputan kegiatan pemusnahan barang bukti narkotika tersebut.
Wartawan senior Tolitoli, Mahdi Rumi, mengecam keras pola komunikasi yang dilakukan pihak Satresnarkoba.
Menurut pria yang akrab disapa Abah itu, tindakan tersebut berpotensi memecah hubungan antarwartawan di daerah.
“Ini sangat kami sayangkan. Kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba bukan kegiatan tertutup.
Tapi kenapa hanya sebagian wartawan yang diundang..? Ada apa sebenarnya..? Jangan sampai muncul kesan ada wartawan yang dipilih-pilih,” ujar Mahdi Rumi dengan nada geram.
Rabu (27/5/26 )
Ia menegaskan, banyak hal yang sebenarnya ingin dipertanyakan awak media terkait pengungkapan kasus narkoba tersebut.
Namun karena tidak dilibatkan, sejumlah wartawan hanya mengetahui kegiatan itu dari pemberitaan media tertentu.
“Kami tahunya justru dari berita yang sudah tayang. Padahal banyak pertanyaan penting yang ingin kami konfirmasi langsung saat kegiatan berlangsung,” tambahnya.
Sorotan terhadap keterbukaan informasi publik itu pun semakin menguat. Sejumlah insan pers menilai aparat penegak hukum semestinya bersikap profesional dan tidak membatasi akses informasi kepada media tertentu saja.
Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Tolitoli, Iptu Lexy Tumonglo, saat dikonfirmasi terkait dugaan pemilihan wartawan yang diundang, membantah adanya unsur kesengajaan.
“Diundang pak, KBO yang saya tugaskan mengundang. Coba tanya pak KBO, karena saya tidak hafal semua teman pers. Humas yang lebih tahu,” tulis Kasat melalui pesan WhatsApp.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru di kalangan wartawan. Pasalnya, banyak awak media menilai koordinasi internal di tubuh Polres Tolitoli seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan keterbukaan terhadap seluruh insan pers.
- Di tengah gencarnya perang melawan narkoba, publik berharap aparat tidak hanya tegas terhadap pelaku kejahatan narkotika, tetapi juga terbuka dan adil terhadap media sebagai mitra kontrol sosial.
